Hidup dalam Deraan Kekeringan

Fenomena intrusi (masuk air asin ke daratan) yang terjadi setiap musim kemarau, mulai dirasakan kembali warga Banyumas bagian timur. Hanya kali ini, masuknya air asin ke sumur-sumur penduduk dirasa lebih cepat dari biasanya. Kasus intrusi ini dirasakan ribuan penduduk di Kecamatan Tambak dan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas dalam setengah bulan terakhir.

”Biasanya menjelang puncak kemarau seperti bulan November. Tapi sekarang baru awal Agustus, air laut sudah masuk,” ungkap Sugito (54 tahun) penduduk Desa Plangkapan Kec Tambak. Air asin itu tak lain kemungkinan berasal dari Samudera Hindia yang jaraknya sekitar 30 km arah selatan kedua kecamatan tersebut. Air laut itu masuk menurut Sugito karena klep pengatur pembuangan yang berbatasan dengan laut tidak berfungsi. Sehingga air laut tersebut masuk ke sungai-sungai dan akhirnya meresap ke sumur-sumur. ”Airnya menjadi berwarna kecoklatan dan berasa asin,” tutur Gimin (54 tahun) penduduk Sumpiuh.

Warsidi, (47 tahun) warga Dusun Kalisetra, Desa Plangkapan, Kec Tambak mengungkapkan sudah sepekan lebih warga kampungnya tidak lagi memanfaatkan air sumur. Karena air sumur mulai berwarna kecoklatan. Ia menduga air sumurnya berwarna coklat karena sejumlah sungai seperti Gatel dan Ijo dimasuki air dari laut. Kalau kemarau, memang air sungai-sungai tersebut dialiri air laut.

Untuk menutup kebutuhan air bersih, warga terpaksa memilih mencari air ke desa tetangga yang letaknya sekitar 3-5 km. Bahkan banyak penduduk Tambak atau Sumpiuh yang mencari air hingga ke Rowokele dan Ayah di Kab Kebumen. Di kedua tempat ini masih banyak gua-gua yang memiliki mata air yang mengalir. Setiap sore atau pagi buta, banyak warga Banyumas yang menyusuri perbukitan dengan berjalan kaki atau menaiki sepeda onthel sembari membawa jerigen. Namun tak sedikit muncul pedagang air dadakan. Untuk satu jerigen air isi 20 liter dijual Rp 3.000.

Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kec Tambak, Setiyono, mengaku pihaknya telah mengusulkan permintaan air bersih untuk warga di Dusun Kalisetra, Desa Plangkapan. Menurut dia. di dusun tersebut ada 185 KK yang sangat memerlukan air bersih, karena sumur-sumurnya berwarna kecoklatan dan rasanya asin akibat instrusi air laut. Hal senada juga dikemukakan Camat Sumpiuh, Ari Yusminto. Ia mengakui kalau wilayah Nusadadi sudah mulai terintrusi air laut. Pihak kecamatan sudah meminta bantuan air bersih ke Pemkab Banyumas.

Tak hanya warga Banyumas yang merasakan air asin. Penduduk Kampunglaut yang desanya dikepung Samudera Hindia di Cilacap juga sudah sekitar tiga pekan terpaksa menggunakan air laut untuk mandi dan mencuci. Di Kampunglaut setidaknya ada tiga desa yang mengalami krisis air bersih yakni Ujungalang, Klaces, dan Ujungagak. Untuk mencukupi kebutuhan air bersih, warga terpaksa berburu air bersih ke gua-gua di Pulau Nusakambangan.

Kabag Kesra Pemkab Cilacap, Soemaryo, mengaku, bantuan air bersih baru bisa menjangkau Desa Ujungalang yang wilayahnya relatif dekat. Sementara untuk Desa Ujunggagak dan Klaces belum dapat dilakukan. Namun menurut laporan yang diterima Sumaryo, untuk sementara penduduk di dua desa mencari air bersih ke Pulau Nusakambangan yang dapat ditempuh dengan perahu. Ia mengungkapkan, dari 24 kecamatan yang ada di Cilacap sebanyak enam kecamatan sudah meminta bantuan air. Keenam kecamatan tersebut yaitu Patimuan, Kedungreja, Bantarsari, Gandrungmanggu, dan Sidareja.

Di Kediri, Jawa Timur, kekeringan membuat para petani memilih membiarkan lahan pertanian mereka telantar. ”Setiap musim kemarau memang seperti ini. Lahan pertanian di sini itu tadah hujan. Kalau tidak ada hujan seperti sekarang, ya dibiarkan bero (tidak ditanami). Para petani hanya memamen ketela pohon yang ditanam pada musim hujan lalu,” ujar Sunarto, warga Desa Sumberagung, Kec Semen, Kab Kediri.

Menurut dia, pada musim kemarau seperti sekarang, panenan hasil pertanian yang didapatkan para petani praktis hanya berupa ketela pohon. Karena itulah, jika musim kemarau berkepanjangan, banyak warga di wilayah Kec Semen yang mengkomsumsi nasi tiwul. Saat ini memang kecamatan tersebut masih makan beras. Sunarto yakin, persediaan beras warga tidak akan cukup hingga akhir musim kemarau.

Hal yang sama juga dialami oleh warga Desa Tempuran, Kec Ngluyu, Kab Nganjuk, Jatim. Menurut Saijo, warga setempat bukan mengahadapi problem pertanian, tapi di musim kemarau warga juga menjadi sulit mendapatkan air bersih. Sumber air dan sumur warga setempat, saat ini sudah mengering. Karena itu, warga harus berjalan sekitar 2 km untuk mendapatkan air bersih. ”Biasanya kalau air sudah sulit, ada dorp-dropan air dari PDAM,” ujar Saijo.

Sedikit harapan dari kemarau ini masih bisa dimiliki para petani yang menggarap lahan pertanian di dataran rendah. Meski tidak ada hujan, masih bisa menggarap lahan pertanianya dengan mengandalkan air dari sumur pompa. Hanya, para petani memilih tanaman yang tidak membutuhkan banyak air seperti jagung dan kedelai.

Sudar, warga Desa Sekarputih, Kec Bagor, Kab Nganjuk termasuk petani yang menanami sawahnya dengan tanaman jagung. Menurut dia, untuk tanaman jagung, bisa 10 hari sekali diairi dengan sumur pompa. ”Kalau tanaman padi kan harus banyak airnya. Jadi kami jelas tidak mampu,” ungkap dia. Untuk lahan seluas seperempat hektare, biaya pengairan dengan sumur pompa mencapai sekitar Rp 80 ribu. wab/juw

Sumber: Republika, Senin, 20 Agustus 2007

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.