Kekeringan di Banyumas Meluas

TEMPO Interaktif, Purwokerto: Kekeringan di wilayah Banyumas, terus meluas. Setelah dua kecamatan yakni Patikraja dan Tambak, terpaksa mengajukan bantuan air kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas akhir pekan lalu, giliran Kecamatan Kalibagor mengajukan permintaan bantuan air bersih.

Kepala Bagian Sosial Pemkab Banyumas Budi Pramono yang
juga Sekretaris Satuan Pelaksanaan Penanganan Bencana
Alam dan Pengungsian (Satlak PBP) menyatakan, pihaknya
telah memasok air untuk tiga kecamatan tersebut. “Kami sudah dropping sebanyak tiga mobil tanki berkapasitas 4 ribu liter,” kata Budi, Rabu
(18/8). Permintaan bantuan, kata Budi, juga terus
datang dari berbagai kecamatan.

Budi mengakui, penanganan kekeringan ini terkesan
lamban karena harus menunggu pengajuan bantuan lebih
dahulu. Padahal berbagai wilayah telah mengalami
kekeringan selama beberapa bulan. “Itu karena kami
harus melakukan koordinasi lebih dulu dengan beberapa
dinas dan wilayah setempat,” katanya.

Alasan lainnya, karena jika pembagian air dilakukan dengan cara jemput bola, diuatirkan pihak desa sebagai penerima bantuan belum menyiapkan bak penampungan. ” Makanya kami hanya bisa menunggu permintaan bantuan,” katanya.

Kebijakan itu tentu saja membuat warga di kawasan kekeringan semakin sulit mendapatkan air. Warga di wilayah yang mengalami intrusi (resapan) air laut seperti di Kecamatan Sumpiuh, Banyumas, juga kekurangan air bersih, sejak tiga bulan silam. Air sumur
berwarna kuning, berasa asin dan berbau akibat rembesan air laut. Namun hingga saat ini bantuan air belum didapatkan warga daerah tersebut, sehingga warga terpaksa mengangkut air dari sumur-sumur warga desa lain yang berjarak 2-3 kilometer.

Hingga hari ini, dari 27 kecamatan yang ada di wilayah Banyumas, 12 kecamatan diantaranyta mengalami kekeringan. Selain Kecamatan Tambak dan Patikraja,
masih terdapat 11 kecamatan lain yang saat ini
mengalami kekeringan yakni Sumpiuh, Kalibagor,
Purwokerto Selatan, Rawalo, Kebasen, Somagede, Wangon,
Ajibarang, Jatilawang, Cilongok dan Gumelar.

Kekeringan juga melanda sebagian besar area
persawahan Banyumas. Kepala Dinas Pertanian Pemkab
Banyumas Joko Wikanto menyatakan, satu-satunya cara
menghadapi kekeringan sawah yang melanda Banyumas saat
ini adalah menghindari penanaman padi. “Soalnya padi
membutuhkan banyak air. Kami sarankan para petani
menanam palawija yang lebih tahan terhadap cuaca
kering,” katanya.

Joko Wikanto menjelaskan, areal sawah yang dilanda
kekeringan secara umum memang sawah jenis tadah hujan.
Karenanya, air baru bisa mengaliri sawah jika musim
hujan tiba. “Jika petani tetap menginginkan menanam padi, maka kami sarankan menanam padi jenis khusus yang tahan terhadap kondisi kekurangan air,” katanya. Di Banyumas, terang Joko, Dinas Pertanian sedang mengembangkan jenis padi tahan kekeringan yakni
berjenis Situ Bagending dan Situ Bagendang. Sayangnya
belum ada penjelasan mengenai kualitas beras dari dua
jenis padi tahan air itu.

Ari Aji HS – Tempo News Room

Sumber: Tempo Interaktif, Rabu, 18 Agustus 2004 | 17:15 WIB

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.